--My Life Is Adventure--


Ready to start

Minggu, 13 November 2011

Laporan Lengkap Pembuatan larutan baku | Kimia Dasar

BAB I
LATAR BELAKANG
I.1   Latar Belakang
Larutan merupakan fase yang setiap hari ada disekitar kita. Suatu sistem homogen yang mengandung dua atau lebih zat yang masing-masing komponennya tidak bisa dibedakan secara fisik disebut larutan, sedangkan suatu sistem yang heterogen disebut campuran.
Larutan standar dalam titrasi memegang peranan yang amat penting, hal ini disebabkan larutan ini telah diketahui konsentrasi secara pasti (artinya konsentrasi larutan standar adalah tepat dan akurat).
Percobaan pembuatan dan pembakuan larutan ini sangat berperan penting dalam proses analisa volumetrik yang merupakan analisis kuantitatif dengan mereaksikan suatu zat yang dianalisis dengan larutan baku (standar) yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar tersebut berlangsung secara kuantitatif.
 Dalam bidang farmasi, analisa volumetri inilah yang digunakan untuk menentukan kadar suatu obat dengan teliti karena dengan titrasi ini, penyimpangan titik ekivalen lebih kecil sehingga lebih mudah untuk mengetahui titik akhir titrasinya yang ditandai dengan suatu perubahan warna, begitu pula dengan waktu yang digunakan seefisien mungkin.
I.2   Maksud & Tujuan
I.2.1     Maksud Percobaan
-       Mengenal macam-macam larutan baku
-       Membuat larutan baku dengan konsentrasi tertentu.
I.2.2     Tujuan percobaan
-       Dapat membuat larutan baku dari bahan padat dengan  konsentrasi tertentu
-       Dapat membuat larutan baku dari bahan cair dengan konsentrasi  tertentu
I.3   Prinsip Percobaan
Pembuatan larutan baku NaOH dan HCl dengan konsentrasi tertentu dilakukan dengan melarutkan homogen NaOH/HCl  ke dalam pelarut aquadest. Pembakuan NaOH dengan menggunakan larutan baku primer Kalium biftalat dititrasi dengan NaOH 0,1 N dengan menggunakan indikator PP hingga terjadi titik akhir. Pembakuan HCl dengan menggunakan larutan baku primer Natrium carbonat dititrasi dengan HCl 0,1 N dengan menggunakan indikator PP hingga terjadi titik akhir.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
II.1.1 Definisi Larutan
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, kecuali dinyatakan lain pelarut digunakan air suling (1).
Larutan adalah campuran homogen dua zat atau lebih yang saling melarutkan dan masing-masing zat penyusunnya tidak dapat dibedakan lagi secara fisik. Larutan terdiri atas zat terlarut dan pelarut (2)
Larutan adalah campuran homogen dalam suatu campuran terdapat molekul-molekul, atom-atom, ion-ion dan zat atau lebih disebut campuran, karena susunannya dapat diubah-ubah disebut campuran homogen, karena komponen-komponen penyusunnya telah kehilangan sifat fisiknya dan susunannya sangat seragam sehingga tidak dapat diamati (3).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat antara lain adalah tekanan dan suhu. Kelarutan zat padat dan cairan tidak terpengaruh oleh tekanan, sedangkan kelarutan gas-gas akan bertambah, apabila tekanan diperbesar (3)
II.1.2 Komponen Larutan
Ada dua komponen yang penting dalam suatu larutannya, yaitu pelarut dan zat yang dilarutkan dalam pelarut tersebut, zat yang dilarutkan itu disebut zat terlarut. Apabila dua atau lebih komponen dicampurkan dan dalam larutan sama. Dalam hal ini baik alkohol maupun air dapat disebut zat terlarut atau pelarut. (4)
II.1.3 Jenis-Jenis Larutan
-       Gas dalam gas – seluruh campuran gas
-       Gas dalam cairan – oksigen dalam air
-       Cairan dalam cairan – alkohol dalam air
-       Padatan dalam cairan – gula dalam air
-       Gas dalam padatan – hidrogen dalam paladium
-       Cairan dalam padatan – Hg dalam perak
-       Padatan dalam padatan – alloys
II.1.4 Kosentrasi Larutan
Kosentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut dalam suatu larutan. Apabila zat terlarut banyak sekali, sedangkan pelarutnya sedikit, maka dapat dikatakan bahwa larutan itu pekat atau kosentrasinya sangat tinggi. Sebaliknya bila zat yang terlarut sedikit sedangkan pelarutrnya sangat banyak, maka dapat dikatakan larutan itu encer atau kosentrasinya sangat rendah.
Banyak cara untuk memeriksa kosentrasi larutan, yang semuanya menyatakan kuantitas zat terlarut dalam kuantitas pelarut (atau larutan). Dengan demikian, setiap sistem kosentrasi harus menyatakan butir-butir berikut (5) :
1.    Satuan yang digunakan untuk zat terlarut
2.    Kuantitas kedua dapat berupa pelarut atau larutan keseluruhan.
3.    Satuan yang digunakan untuk kuantitas kedua.
Kosentrasi dapat dinyatakan dengan beberapa cara yaitu :
a.    Persen Volum
 Persen volum menyatakan jumlah liter zat terlarut dalam 100 liter larutan, misalnya : Alkohol 76% berarti dalam 100 liter larutan alkohol terdapat 76 liter alkohol murni.
b.    Persen Massa
 Persen Massa menyatakan jumlah gram zat terlarut dalam 100 gram larutan contohnya : Sirup merupakan larutan gula 80% artinya dalam 100 gram sirup  terdapat 80 gram gula.
c.    Molaritas
                             
Molaritas menyatakan banyaknya mol zat terlarut perkilo gram pelarut tang terkandung dalam suatu larutan molaritas (m) tidak dapat di hitung dari kosentrasi molar (M), kecuali jika rapatan (densitar) larutan itu di ketahui.
d.    Molalitas
Molaritas menyatakan jumlah Mol zat terlarut setiap kilogram dalam 1 liter larutan
contohnya : NaCl berarti 1 liter larutan terdapat 0,1 Mol NaCl
               



e.    Normalitas
Normalitas suatu larutan adalah jumlah gram ekuivalen zat terlarut yang terkandung di dalam 1 liter larutan. Batas ekuivalen adalah fraksi bobot molekul yang berkenaan dengan satu satuan tertentu, reaksi kimia dan 1 gram ekuivalen adalah fraksi yang sama dari pada 1 mol. 
f.     Fraksi Mol
Fraksi mol suatu dalam larutan didefinisikan sebagai banyaknya mol (n) komponen itu, dibagi dengan jumlah mol keseluruhan komponen dalam larutan itu.
Jumlah fraksi seluruh komponen dalam setiap larutan adalah :
 X (terlarut) =n (terlarut)
 n (terlarut) + n (pelarut)
 X (Pelarut) =n (pelarut)
 n (terlarut) + n (pelarut)
Dalam persentase fraksi mol dinyatakan sebagai mol persen.


II.1.5 Perbandingan antara berbagai skala konsentrasi
Skala konsentrasi molar dan normalitas sangat bermanfaat untuk. Eksperimen volumetri dimana kuantitas zat terlarut dalam larutan dengan volume bagian larutan itu. Skala normalitas sangat menolong dalam membandingkan volume dua larutan yang diperlukan untuk bereaksi secara kimia (4).
Keterbatasan skala normalitas adalah bahwa suatu larutan mungkin mempunyai lebih dari satu nilai normalitas, bergantung pada reaksi yang menggunakannya. Kosentrasi molar larutan sebaliknya merupakan suatu bil tetap karena bobot molekul zat itu tidak bergantung pada reaksi yang menggunakannya (4).
Skala fraksi mol sangat berguna dalam karya-karya teoritas karena banyak sifat-sifat fisika larutan dapat dinyatakan dengan lebih jelas dalam perbandingan jumlah molekul pelarut dan zat terlarut. (6).
Kimia volumetri yaitu pembuatan larutan baku. Zat murni di timbang dengan teliti, kemudian di larutkan dalam labu ukur sampai volume tertentu dengan tepat. Dimana normalitasnya diperoleh dengan perhitungan larutan-larutan baku primer yaitu natrium oksalat, kalium bikromat, natrium karbonat, kalium iodida.
 Zat-zat kimia yang dipakai untuk membuat larutan harus memenuhi syarat :
1.    Zat yang digunakan harus murni dan mempunyai rumus molekul yang pasti.
2.    Zat yang digunakan harus mempunyai berat ekuivalen yang pasti.
3.    Zat yang digunakan mudah di keringkan.
4.    Stabil dimana larutan baku primer dapat dipakai untuk menentukan
kadar larutan yang tidak diketahui.
II.1.6 Larutan Baku
Larutan baku (standar) adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas). Senyawa yang digunakan untuk membuat larutan baku dinamakan senyawa baku.
Senyawa baku dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.    Baku primer adalah bahan dengan kemurnian tinggi yang digunakan untuk membakukan larutan standar dan untuk membuat larutan baku yang konsentrasi larutannya dapat dihitung dari hasil penimbangan senyawanya dan volume larutan yang dibuat. Contohnya : HCO . 2HO, Asam Benzoat (CHCOOH), NaCO, KCrO, AsO, KBrO, KIO, NaCl, dll.
Syarat-syarat baku primer :
-       Diketahui dengan pasti rumus molekulnya
-       Mudah didapat dalam keadaan murni dan mudah dimurnikan
-       Stabil, tidak mudah bereaksi dengan CO, cahaya dan uap air
-       Mempunyai Mr yang tinggi
2.    Baku sekunder adalah bahan yang telah dibakukan sebelumnya oleh baku primer kareana sifatnya yang tidak stabil, dan kemudian digunakan untuk membakukan larutan standar. Contoh : larutan natrium tiosulfat pada pembakuan larutan iodium.
Contoh larutan baku primer :
-       NaOH, HCO (as. oksalat), CHCOOH (as. benzoat), KHP
-       HCl, NaBO (nat. tetraborat), NaCO (nat. karbonat)
-       KMnO, HCO, AsO (arsen trioksida)
-       Iodium, AsO, NaSO.5HO baku (nat. tio sulfat)
-       Serium (IV) Sulfat,   As2O, serbuk Fe pa.
-       AgNO, NaCl, NHCNS
-       NaSO, KCrO, KBrO, KIO
-       EDTA, CaCO pa, Mg pa
Indikator adalah zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah di capai. Umumnya indikator yang digunakan adalah indikator azo dengan warna yang spesifik pada berbagai perubahan pH.
Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara stokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan standar.
Titik akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna pada indikator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yyang dianalisis dan larutan standar.
Pada umumnya, titik ekuivalen lebih dahulu dicapai lalu diteruskan dengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam penentuan titik akhir titrasi sangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa. Pada kebanyakan titrasi titik ekuivalen ini tidak dapat diamati, karena itu perlu bantuan senyawa lain yang dapat menunjukkan saat titrasi harus dihentikan. Senyawa ini dinamakan indikator.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis volumetrik adalah sebagai berikut :
-       Reaksinya harus berlangsung sangat cepat.
-       Reaksinya harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi yang kuantitatif/stokiometrik.
-       Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalen tercapai, baik secara kimia maupun secara fisika.
-       Harus ada indikator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan kimia atau fisika. Indikator potensiometrik dapat pula digunakan.
II.2  Uraian Bahan
1.     Air Suling (1)
Nama Resmi           : Aqua Destilata
Nama Lain               : Air Suling,Aquades
Rm/Bm                     : HO / 18,02
Pemberian               : Cairan Jernih,tidak berwarna,tidak   berbau,tidak mempunyai rasa
Kelarutan                 : -
Penyimpanan         : Didalam wadah tertutup baik
Kegunaan               : Sebagai pelarut
2.    Natrium Hidroksida (1)
Nama resmi              : Natrium Hydroxydium
Nama Lain                : Natrium hidroksida
Rm/Bm                      : NaOH/40.00
Pemerian                  : Bentuk batang,massa hablur atau    keeping-keping ,rapuh dan mudah meleleh basah,sangat Alkalis  dan korosif,
Kelarutan                   : Sangat mudah larut dalam air dan   etanol (95%)
Penyimpanan          : Mengandung tidak kurang dari 97,5% akali jumlah dihitung sebagai NaOH dan tidak lebih dari 2,5% NaCO3
Kegunaan                 : Sebagai zat tambahan
3.      Kalium Biftalat (1)
Nama Resmi           : Kalium Hidrogenftalat
Nama lain                 : Kalium biftalat
Rm/Bm                   : CO2 H,C6H4,CO2K. / 204,44
Pemberian             : Serbuk hablur,putih tidak berwarna
Kelarutan                 : Larut perlahan dalam air,larutan jernih
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik
Kandungan             : Menggandung tidak kurang dari 99,9% dan tidak lebih dari 1001,0% C8H5 KO4,dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Khasiat                     : -
Kegunaan               : Sebagai baku primer
4.    Asam Klorida (1)
Nama Resmi                        : Acidum Chloridum
Nama Lain                            : HCl, Asam Klorida
Pemerian                              : Cairan, tidak berwarna, berasap, bau merangsang. Jika diencerkan dengan 2 bagian air, asap dan bau hilang
Keasaman-Kebasaan         : Larutan yang sangat encer masih bereaksi asam kuat terhadp kertas lakmus P
Penyimpanan                      : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat dan kegunaan       : Zat tambahan
5.    Natrium Karbonat (1)
Nama Resmi                                    : Natrii Carbonas
Nama Lain                            : Natrium Karbonat
Kelarutan                              : Mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih
Penyimpanan                      : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat dn kegunaan         : Zat tambahan, keratolitikum
6.    Fenolftalein (1)
Nama Resmi                                    : FenolFtalein
Nama Lain                            : PP
RM/BM                                   : C20H14O4
Reaksi                                    : Tidak berwarna dalam suasana asam dan alkali lemah dan memberikan warna merah dalam larutan alkali kuat
Kegunaan                             : Indikator


BAB III
METODE KERJA
III.1        Alat  dan Bahan
A.       Alat yang digunakan
Adapun alat - alat yang digunakan dalam percobaan pembuatan larutan baku antara lain timbangan analitik, labu ukur 50 ml dan 100 ml, gelas erlenmeyer, pipet volum 25.0 ml, kaca arloji, sendok anduk, buret , oven dan botol semprot.
B.       Bahan yang digunakan
Bahan – bahan yang diperlukan pada saat percobaan kesetimbangan yaitu Aquadest, Tissue, HCl, NaOH, NaCO₃, K. H. Fhtalat, indikator FenolFtalein dan kertas perkamen.


III.2     Cara Kerja
III.2.1 Pembuatan dan pembakuan NaOH 0,1 N
a). Pembuatan larutan baku sekunder NaOH 0,1 N
Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan lalu menimbang seksama NaOH sebanyak 0,2260 gr  dengan timbangan analitik diatas wadah kaca arloji. Memasukkan ke dalam  erlenmeyer dan menambahkan sedikit aquadest hingga larut. Memindahkan kedalam labu ukur 50 ml, dibilas erlemeyer lalu menambahkan aquadest hingga tepat 50 ml skala labu ukur, kemudian menghomogenkan. Memindahkan larutan NaOH ke dalam erlenmeyer dan menutup rapat lalu memberi label NaOH.

b). Pembuatan Larutan Baku primer Kalium Biftalat
Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan lalu memanaskan Kalium Biftalat di dalam oven selama 2 jam dengan suhu 180 C - 280 C dan menimbang seksama kalium Biftalat sebanyak 0,1010 gr dengan timbangan analitik di atas kertas perkamen. Memasukkan hasil timbangan ke dalam erlenmeyer dan menambahkan sedikit aquadest. Memindahkan ke dalam labu ukur sambil membilas erlemeyer kemudian menambahkan aquadest hingga 100 ml ke dalam labu ukur kemudian menghomogenkan.


c). Pembakuan NaOH dengan Kalium Biftalat
Menyiapkan alat dan bahan dan membersihkannya atau mencuci buret dengan aquades lalu membilas dengan larutan NaOH. mengisi buret dengan larutan NaOH hingga tepat skala 0 pada buret. Memipet kalium Biftalat masing-masing 25 ml ke dalam erlenmeyer dan menambahkan indikator Fenolftaleien 4 tetes, homogenkan. Titrasi dengan NaOH secara perlahan-lahan dan tetes demi tetes sambil terus menghomogenkan hingga terjadi perubahan warna menjadi merah muda kemudian mencatat volume titrasi NaOH tepat saat perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda. Ulangi lagi dua kali percobaan.
III.2.1 Pembuatan dan pembakuan HCl 0,1 N
a). Pembuatan larutan baku sekunder HCl 0,1 N
Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan kemudian mengukur seksama HCl sebanyak 0,8360 gr dengan menggunakan pipet skala lalu memasukkan ke dalam labu ukur 100 ml dan menambahkan aquadest hingga tepat 100 ml skala labu ukur, kemudian menghomogenkan. Memindahkan larutan HCl ke dalam erlenmeyer dan ditutup rapat dan memberikan label HCl


b). Pembuatan Larutan baku primer Natrium Karbonat
Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan lalu memanaskan Natrium karbonat didalam oven selama 2 jam dengan suhu 180 C - 280 C. Selanjutnya menimbang Natrium karbonat sebanyak 0,103 g dengan timbangan analitik diatas kertas perkamen dan memasukkan hasil timbangan ke dalam erlenmeyer dan menambahkan sedikit aquadest. memindahkan ke dalam labu ukur dan menambahkan aquadest hingga 100 ml dalam labu ukur kemudian menghomogenkannya.

c). Pembakuan HCl dengan Natrium Karbonat
Menyiapkan alat dan bahan lalu membersihkannya atau mencuci buret dengan aquadest lalu membilas dengan larutan HCl. Mengisi buret dengan HCl hingga tepat skala 0 pada buret. Memipet Natrium carbonat masing-masing 25 ml ke dalam labu erlenmeyer dan menambahkan indikator Fenolftaleien 4 tetes. Mencampurkan atau menggoyangkan hingga homogen. Titrasi dengan HCl secara perlahan-lahan dan tetes demi tetes sambil terus dihomogenkan sampai warna merah muda pada larutan hilang. Mencatat volume titrasi HCl tepat saat perubahan warna dari merah muda menjadi jernih. Mengulangi lagi dua kali percobaan.
.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1  Hasil Pengamatan
K.H Fhtalat yang ditimbang = 0,101 g
Tabel pengamatan hasil pembakuan NaOH dengan K.H Fhtalat
No.Titrasi
Volume K.H Fhtalat
Pembacaan skala buret
Volume titrasi
Titik awal
Titik Akhir
1
25ml + PP
0
1,2
1,2 ml
2
25ml + PP
1,2
2,6
1,4 ml
3
25ml + PP
2,6
3,9
1,3 ml
      Volume Rata-Rata =
NaCO yang ditimbang = 0,103 g


Tabel pengamatan hasil pembakuan HCl dengan NaCO
No.Titrasi
Volume NaCO
Pembacaan skala buret
Volume titrasi
Titik awal
Titik Akhir
1
25ml + PP
0
2,8
2,8   ml
2
25ml + PP
2,8
5,1
2,5   ml
3
25ml + PP
5,1
7,9
2,6   ml
Volume rata-rata =
IV.2     Perhitungan dan Reaksi
IV.2.1 Perhitungan Bahan Yang Ditimbang
1.    NaOH 0,1 N              50 ml
NaOH                         Na+ + OH-
BM= Mr Na + Mr O + Mr H = 23 + 16 + 1 = 40
BE = BM = 40
 
W= N x L x BE         
W= 0,1 x 0,1 x 40
W= 0,2 g                                2000 mg   
2.    HCl 0,1 N                   100 ml
HCl                             H+ + Cl-
BM = Mr H + Mr Cl = 1 + 35,5 = 36,5
BE = BM = 36,5
Bj HCl            = 1,18 g/ml
%         = 37 %
N =
N =
N = 11,96 N
Pengenceran           V x N            = V x N
100 x 0,1 = V x 11,96
V           = 0,836 ml
IV.2.2  Perhitungan normalitas hasil titrasi untuk 
1.       NaOH 0,1 N                                   50 ml
Diketahui Volume titrasi rata-rata = 1,3ml
BE = BM K.H fhtalat = 204,44
Mol grek NaOH               =          mol grek K.H fhtalat
      V titrasi x N NaOH    =         
                  N NaOH         =         
                  N NaOH         =         
                  N NaOH         =          0,3800 x Faktor pengenceran
                  N NaOH         =          0,3800 x 
                  N NaOH         =          0,0950 N       
2.    Perhitungan HCl 0,1 N                   100 ml
              NaCO + 2HCl                                2NaCl            +  HCO
              BM = 106
              BE = ½ BM = 53
Mol grek HCl             =          mol grek NaCO
                  V titrasi x N HCl  =         
                  N HCl                   =         
      N HCl             =         
      N HCl             =          0,7389339 x Faktor pengenceran
      N HCl             =          0,7389339 x 
      N HCl             =          0,1847 N

IV.2.3        Reaksi
1.        NaOH                                     Na+ + OH-
2.        HCl                                         H+ + Cl-
3.               
4.        NaCO + 2HCl                                  2NaCl            +  HCO

IV.3 Pembahasan
            Ketelitian dalam pengenceran merupakan salah satu faktor untuk memperoleh ketetapan konsentrasi yang diinginkan, karena itu pengenceran akan lebih baik bila dilakukan dalam labu ukur untuk membuat larutan dari bahan padat, maka ditimbang sejumlah zat tertentu zat padat dilarutkan dalam air sampai volume tertentu sesuai konsentrasi yang diinginkan. Konsentrasi larutan yang tepat akan diperoleh pengambilan zat padat dan pengembangan dikerjakan dengan teliti dan sebersih mungkin.
            Titrasi merupakan metode analisis kimia secara kuantatif yang biasa digunakan dalam labu ukur untuk menentukan konsentrasi dari reaktrasi.
            Titik akhir adalah titik fitrasi pada indikator berubah untuk mengindikasi titik akhir dalam rekasi indikator visual.
Titik ekuivalen adalah titik konsentrasi asam dengan konsentrasi basa atau titik di mana jumlah basa yang ditambahkan dengan jumlah asam yang dinetralkan. Dalam percobaan ini indikator yang digunakan adalah fenolftalein, hal ini disebabkan karena fenol mempunyai warna ungu dan tak berwarna atau penambah nion hidroksida, menghilangkan untuk menggantikannya mengubah indikator-indikator menjadi warna ungu. Fenolftalein juga digunakan tanda bereaksinya antara NaOH yang telah diraksikan Fenolftalein dengan kalium biftalat.

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari percobaan di atas dapat diperoleh kesimpulan yaitu :
1.    Untuk membuat NaOH 0,1 N ditimbang 0,226 mg NaOH padat dalam 100 ml aquades dan untuk membuat HCl 0,1 N dipipet 0,8360 ml dalam 100 ml aquadest
2.    N NaOH yang diperoleh setelah pembakuan 0,0950 N
N HCl yang diperoleh setelah pembakuan 0,1847 N


V.2 Saran
Sebelum masuk Lab kordinator bahan harus    siapkan bahan yang akan dipakai sebelum praktikum dimulai.



DAFTAR PUSTAKA
1.    Dirjen POM.Farmakope Indonesia, Edisi Ke-III. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. 1979.

2.    http/kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2009/0700009/index.html.diakses tanggal 11 November 2011.

3.    Isfar Anshary. Kimia I. Penerbit : Srikandi. Surakatra.2002.

4.    Benny karyadi. Kimia. Jakarta.2000

5.    Ralp.H.Putrucci. Kimia dasar, Jilid 2

6.    E. G. Jereme. L. Rossenberg. Kimia Dasar

7.    Tim Asisten. Penuntun Kimia Dasar. STIFA Kebangsaan. Makassar. 2011

1 komentar:

  1. Thita Makassar di mana ?
    Postingannya sangat membantu

    BalasHapus